Gol Ivan Perisic di menit-menit akhir berhasil menggagalkan kemenangan AC Milan atas Internazionale Milan. Golnya pada menit 90+2 itu membuat hasil Derby Kota Milan berakhir dengan skor 2-2.

Sebelumnya Inter tertinggal terlebih dahulu melalui gol yang dicetak Suso pada menit 42′ dan 58′. Selain gol Perisic, Inter juga sempat menyamakan kedudukan pada menit 53′ atas gol yang dicetak Antonio Candreva. Sementara pertandingan ini adalah debut bagi Stefano Pioli menukangi Inter setelah Frank de Boer dipecat.

Pioli berhasil membuat pertandingan derby bertajuk Della Madonnina itu menarik. Sebab Inter diinstruksikannya bermain menyerang dan agresif sepanjang pertandingan. Sementara Milan cukup banyak memberikan perlawanan melalui serangan-serangan balik. Duel-duel di depan area kotak penalti Milan menjadi salah satu yang menarik pada laga tersebut.

Milan yang dilatih Vincenzo Montella tetap mengandalkan formasi 4-3-3. Absennya Alessio Romagnoli dan Riccardo Montolivo karena cedera, dipercayakan kepada Gustavo Gomez dan Manuel Locatelli. Berbeda dengan Inter yang memberikan beberapa kejutan pada formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Pioli.

Geoffrey Kondogbia dan Marcelo Brozovic mendapatkan kepercayan kembali menjadi pemain inti. Gary Medel kembali ditugaskan menjadi bek tengah menemani Joao Miranda. Medel juga dimaksudkan untuk menggantikan Andrea Ranocchia yang menderita cedera. Tapi salah satu kesalahan Pioli adalah memaksakan kondisi Cristian Ansaldi yang baru sembuh cedera di posisi full-back kiri.

MilanFoto: Pandit Football Indonesia

Mengeksploitasi Pertahanan Sisi Kiri Inter Milan

Bisa dibilang Ansaldi adalah titik lemah Inter pada pertandingan kali ini. Tapi hal itu wajar. Mengingat, sekali lagi Ansaldi tidak terlalu bugar pada laga ini. Ia menjadi bulan-bulanan Suso di sepanjang pertandingan. Ansaldi kerap kalah adu lari dari Suso yang mengandalkan strategi serangan balik kesebelasannya.

Ia diwajibkan memenuhi filosofi permainan Poli yang mengandalkan serangan sayap. Poli menginginkan agar kedua full-back aktif membantu serangan di lapangan. Pada laga tersebut, Ansaldi harus menyisir sisi kiri lapangan membantu serangan. Apalagi taktik Pioli menugaskan Perisic yang menjadi winger kiri agar sering bergerak lebih ke tengah di area half-space. Ansaldi pun wajib turun cepat ketika kesebelasannya diserang.

Jaraknya dengan Joao Mario pun cukup lebar sehingga ada ruang yang bisa dieksploitasi lawan. Carlos Bacca pun sering memanfaatkan area itu untuk mendapatkan ruang mengingat Bacca dijaga teralu ketat oleh duet bek tengah Inter. Tapi Bacca yang rajin bergerak ke bawah saat itu, beberapa kali berhasil mendapatkan ruang antara Miranda dengan Ansaldi.

Semua hal itu cukup bisa dimanfaatkan Milan atas dua gol yang diciptakan Suso. Memenangkan duel-duelnya dengan Ansaldi dan mendapatkan ruang di antara Ansaldi dengan Miranda. Area sisi kiri pertahanan Inter itulah yang dijadikan kecenderungan serangan Milan. Dibandingkan dengan pertahanan sisi kanan yang sulit ditembus M’Baye Niang karena Danilo D’Ambrosio berhasil menjalankan tugas bertahannya cukup baik.

Sisi kiri pertahanan Inter baru membaik ketika Ansaldi digantikan Nagatomo pada menit 65′. Suso nampak lebih sulit bergerak ketika dijaga Nagatomo. Sampai-sampai Suso sempat bertukar posisi dengan M’Baye Niang pada pertengahan babak ke dua. Tapi Niang pun kesulita melewati full-back kiri asal Jepang itu. Bahkan Nagatomo berhasil melakukan satu tekel sukses kepada Niang.

Inter Milan Menguasai Sepertiga Akhir Pertahanan AC Milan

Salah satu faktor yang membuat Inter tidak jadi dikalahkan pada laga ini karena melancarkan pressing terus menerus. Pola itu sudah dilancarkan sejak pertandingan dimulai. Pioli langsung menunjukkan filosofi permainan blok tinggi andalannya. Lini depan Inter melancarkan pressing ketat ketika Milan menguasai bola di sektor belakang. Perisic dan Candreva yang merupakan winger bergerak ke tengah ikut melakukan pressing.

Keterlibatan mereka menumpuk pemain Inter di depan kotak penalti Milan. Salah satu tujuan mereka juga memberikan tekanan kepada Locatelli yang menjadi pembagi bola di area tersebut. Pergerakan lini depan Inter membuat Joao Mario lebih leluasa bergerak turun ke bawah maupun melebar ke sisi kanan atau kiri. Sebab melebarnya Mario tidak lepas dari jarak yang cukup jauh antara winger dengan full-back.

Hal paling kentara yaitu terlalu lebarnya jarak antara Candreva dengan D’Ambrosio. Terkadang Candreva dan D’Ambrosio melakukan kesalahan ketika melepaskan operan. Padahal kecenderungan serangan Inter dibangun melalui sisi lapangan. Seperti halnya di sisi kiri ketika Brozovic menjadi penengah antara Perisic dengan Ansaldi.

Tapi yang jelas pressing yang dilakukan lini depan Inter membuat seluruh pemain tengahnya bergerak leluasa. Pioli disokong oleh gelandang-gelandang yang mau bekerja keras. Mobilitas Kondogbia dan Mario terlihat tinggi pada laga kali ini. Keduanya menyisir dari belakang maupun depan. Menekan dan mengambil alih bola dari lapangan tengah, kemudian membantu serangan. Dan tentu saja dialirkan ke sisi lapangan. Total, Inter melepaskan 21 percobaan tendangan pada laga ini.

[IMG] - MilanFoto: Pandit Football Indonesia

Heatmap Geoffrey Kondogbia (kiri) dan Joao Mario (kanan) sepanjang pertandingan. Sumber: Squawka.

Pressing dan blok tinggi Inter itu membantu untuk menguasai sepertiga akhir pertahanan Milan. Membuat Juraj “Kuco” Kucka lebih bekerja keras menolong Locatelli agar keluar dari tekanan. Kuco pun seolah terkurung di depan area kotak penalti dan hanya sesekali bisa naik ke depan. Sementara Giacomo Bonaventura diberikan lebih keleluasaan menyerang kendati beberapa kali harus turun ke bawah untuk mencari bola.

[IMG] - MilanFoto: Pandit Football Indonesia

Grafis tekel-tekel Internazionale Milan sepanjang pertandingan. Hijau (berhasil), oranye (gagal). Sumber: fourfourtwo.

Berterimakasihlah Kepada Bonaventura dan Kuco, Bukan Suso

Locatelli harus benar-benar cerdik di sepanjang laga ini. Ia tidak pernah lepas dari tekanan yang membuatnya tidak bisa berlama-lama menguasai bola. Atas tekanan yang didapatkannya, beberapa kali Locatelli melakukan kesalahan operan. Bahkan lebih memilih dialirkan ke belakang atau samping untuk menghindari perebutan bola dengan lawan. Locatelli pun harus berusaha keras ketika sukses melakukan dribel atas tekanan dari Mario.

Locatelli harus berterima kasih kepada Kuco ketika beberapa kali keluar dari tekanan. Kuco-lah yang selalu berada di dekatnya ketika Locatelli menerima tekanan, baik itu menerima umpan, mau merebut bola dari lawan ketika Locatelli kehilangan penguasaannya. Bonaventura juga beberapa kali turun ke bawah untuk menolong Locatelli keluar dari tekanan.

Ketika Bonaventura mendapatkan bola, ia lebih kreatif membangun serangan ketimbang Kuco. Bonaventura mencoba membangun serangan dengan lebih lama menggiring bola ke depan. Ia juga dibantu oleh Niang yang turun ke bawah untuk mencari bola dan membantu pertahanan. Sebab Niang pun tidak bisa terlalu leluasa di depan karena kesulitan menembus pertahanan Inter.

[IMG] - MilanFoto: Pandit Football Indonesia

Ketika aksi individual Giacomo Bonaventura membuat Geoffrey Kondogbia malas adu lari dengannya. Kemudian melepaskan umpan kepada Suso dan menjadi gol pertama Internazionale Milan.

Peran Niang sebagai winger kiri membuatnya harus berhadapan dengan Ambrosio yang cukup baik ketika melakukan transisi bertahan. Medel pun bermain baik ketika mengantisipasi pergerakan Niang. Mengingat Inter pun bermain dengan garis pertahanan tinggi, sehingga Medel bisa lebih awal mengantispasi Niang. Walau pertahanan Inter agak kendur ketika Medel ditarik keluar karena cedera.

Kesulitan Milan membangun serangan melalui sisi kiri juga karena Mario yang turun membantu pertahanan. Tapi di tengah kesulitan itulah yang membuat Bonaventura sebagai kreator serangan balik Milan. Keberanian aksi individualnya cukup membantu mengeluarkan lini tengah Milan dari tekanan. Tentu saja dengan tidak melupakan perjuangan Locatelli dan Kuco untuk mempertahankan penguasaan bola.

Total, Locatelli melakukan percobaan delapan dribel pada laga ini. Tujuh di antaranya berhasil dilakukan dengan sukses. Kemudian ia jugalah yang menjadi penentu kecenderungan serangan Milan melalui sisi kanan. Sebab ia sering membawa bola dan melepaskan bola ke arah sana karena Niang sulit keluar dari tekanan. Gol pertama Suso pun tidak akan terjadi jika Bonaventura tidak membantu kesebelasannya keluar dari tekanan di lini tengah dan kemudian memberi asis kepadaanya.

LEAVE A REPLY